Sebulan Terakhir, Harga Saham BBRI Turun Paling Gede Setelah BI Pangkas Suku Bunga

Sebulan Terakhir, Harga Saham BBRI Turun Paling Gede Setelah BI Pangkas Suku Bunga

Harga saham Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) berakhir di zona merah pada perdagangan kemarin, Kamis (18/7), pasca Bank Indonesia (BI) mengumumkan penurunan suku bunga acuan sebesar 25 basis point menjadi 5,75%.

Pada perdagangan kemarin, harga saham BBRI ditutup di posisi Rp 4.450 per saham. Dibandingkan dengan penutupan perdagangan sehari sebelumnya di posisi Rp 4.520 per saham, harga saham BBRI kemarin turun 1,55%.

Pada periode perdagangan sebulan terakhir, harga saham BBRI hanya tujuh kali berakhir di zona merah. Namun, penurunan harga saham BBRI kemarin tercatat sebagai penurunan harga paling besar sepanjang sebulan terakhir ini. Sebelumnya, pada 24 Juni lalu, harga saham BBRI sempat turun sebesar 1,15%.

Pada perdagangan kemarin, saham BBRI dibuka di harga Rp 4.500 per saham. Saham BBRI sempat mencatatkan harga tertinggi di posisi Rp 4.510 per saham sementara harga terendah di posisi Rp 4.440 per saham.

Total nilai transaksi saham BBRI pada perdagangan kemarin mencapai Rp 344,3 miliar. Sementara volume transaksi saham BBRI kemarin sebanyak 770.282 saham.

Investor asing pada perdagangan kemarin mencatatkan aksi jual bersih alias net sell saham BBRI sebesar Rp 77 miliar.

sumber: https://investasi.kontan.co.id/news/sebulan-terakhir-harga-saham-bbri-turun-paling-gede-setelah-bi-pangkas-suku-bunga

 

Mau belanja saham? Ini indikator fundamental perusahaan yang perlu dicek

Mau belanja saham? Ini indikator fundamental perusahaan yang perlu dicek

Ketika investasi saham ditujukan untuk jangka panjang, penting untuk menilik unsur fundamental suatu perusahaan. Secara mudahnya, apa saja yang perlu dilihat dari suatu perusahaan sebelum berinvestasi?

Bagi Kepala Riset Koneksi Kapital Alfred Nainggolan, ada dua indikator utama melihat fundamental saham. Pertama, sisi profitabilitas atau kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan. Kedua, struktur keuangan perusahaan tersebut.

Terkait profitabilitas, Alfred lebih memberatkan melihat konsistensi perusahaan mencetak pertumbuhan laba, ketimbang hanya melihat nominal. “Lebih nyaman melihat saham dengan pertumbuhan yang smooth, meskipun tidak terlalu tinggi, tetapi konsisten,” katanya.

Profitabilitas ini bisa dilihat di beberapa pos laporan keuangan. Misalnya, margin keuntungan bersih (NPM) dan rasio return on equity (ROE). Semakin tinggi rasio NPM dan ROE, ini memperlihatkan semakin besar kemampuan perusahaan mengolah pendapatan dan asetnya untuk menghasilkan keuntungan.

Alhasil, emiten dengan pertumbuhan NPM yang baik dan ROE lebih tinggi, memiliki daya tarik lebih besar. “Margin laba perusahaan bisa didorong dua hal, pendapatannya naik atau cost-nya turun karena efisiensi,” katanya.

Indikator kedua fundamental suatu perusahaan bisa dilihat dari struktur keuangannya. Tingkat leverage menjadi perhatian Alfred, yaitu tingkat utang berbanding modal perusahaan tersebut. Pada perusahaan dengan fundamental bagus, komposisi utang dan ekuitasnya proporsional.

Perusahaan dengan keuangan sehat atau mature, biasanya menyisihkan laba bersih untuk mengurangi beban utang. Atau, perusahaan bakal menambah modal agar ke depan tidak perlu menambah utang.

“Struktur-struktur keuangan ini yang menjadi dasar yang bagus untuk investor untuk melihat saham apa yang dipilih,” kata Alfred. Menurut dia, investor bisa menilik tren konsistensi perusahaan dari tiga hingga lima tahun laporan keuangan perusahaan.

Investor juga bisa lebih dalam menilik calon saham pilihan dengan melihat indikator kelayakan investasi. Misalnya dari indikator yang menunjukkan nilai wajar suatu saham, seperti price to book value (PBV) dan price to earnings ratio (PER).

PBV memperlihatkan seberapa besar pasar menilai harga suatu saham terhadap modal atau kekayaannya. Sedangkan PER memperlihatkan tingkat keuntungan perusahaan terhadap sahamnya saat ini. Biasanya, semakin tinggi PBV dan PER, memperlihatkan saham tersebut sudah mahal.

Tetapi, Alfred mengingatkan, indikator-indikator tersebut mengandung unsur nilai pemberian pasar. Maka, diperlukan melihat fundamental perusahaan bersama dengan indikator ini.

PBV tinggi bisa berarti suatu saham sudah mahal, bisa juga pasar memberikan harga premium lantaran kinerja yang baik. Sedangkan PBV murah, bisa jadi memang saham itu murah, atau malah murahan.

Begitu juga ketika PER tinggi. Jika pertumbuhan earning per share (EPS) perusahaan tersebut tinggi, ada kemungkinan PER perusahaan akan turun. “PBV dan PER tinggi bukan alasan untuk tidak membeli suatu saham, harus melihat lagi fundamental perusahaannya,” katanya.

Investor juga bisa melihat aksi korporasi dan tingkat kepatuhan perusahaan (good corporate governance) sebagai penunjang menilai fundamental perusahaan. Adanya aksi korporasi menunjukkan upaya perusahaan mendorong pertumbuhan lebih besar.

Sumber:https://investasi.kontan.co.id/news/mau-belanja-saham-ini-indikator-fundamental-perusahaan-yang-perlu-dicek

MNC Vision Networks akuisisi 60% saham K-Vision

MNC Vision Networks akuisisi 60% saham K-Vision

PT MNC Vision Networks Tbk (IPTV) telah menandatangani perjanjian kerjasama eksklusif dengan K-Vision untuk akuisisi saham mayoritas K-Vision sebesar 60%. Akuisisi ini diharapkan akan semakin meningkatkan pelayanan serta melengkapi penawaran paket Pay TV Perseroan kepada pelanggan, yang juga sekaligus memperkuat strategi Perseroan untuk membuka peluang baru dalam menangkap berbagai segmen pasar menengah ke bawah.

Ade Tjendra, Direktur Utama IPTV menjelaskan pihaknya sangat optimis dapat memperluas jangkauan melalui akuisisi K-Vision. Atas akuisisi ini, Perseroan yakin dapat semakin memaksimalkan sumber daya yang dimiliki untuk terus meningkatkan performansi bisnis IPTV di Indonesia.

“Tak hanya itu, Perseroan saat ini juga dapat menangkap semua segmen pasar TV-Berbayar di Indonesia. Sejalan dengan kualitas seluruh layanan Perseroan yang terus meningkat, kesepakatan dengan K-Vision ini akan semakin memperkuat posisi sebagai Perusahaan terdepan dalam industri Pay TV di Indonesia,” ujarnya dalam siaran pers, Selasa (16/7)

K-Vision merupakan Pay TV pra-bayar terbesar di Indonesia yang melayani segmen pasar menengah ke bawah yang membutuhkan kualitas lebih baik dengan beragam pilihan saluran Free to Air (FTA Indonesia lokal dan internasional). K-Vision menawarkan paket TV berbayar dengan harga terjangkau melalui voucher pra-bayar serta layanan siaran melalui satelit KU-band.

Setelah akuisisi ini, Perseroan menargetkan untuk mencapai 200.000 pelanggan baru per bulan. Pada 8 Juli 2019, IPTV secara resmi telah melantai di Bursa Efek Indonesia.

Penawaran umum perdana Perseroan ditetapkan sebesar Rp 240 per saham, mewakili 3.522.000.000 saham baru atau 10% dari modal yang dikeluarkan dan disetor Perseroan setelah penawaran umum perdana, dengan valuasi Perseroan pasca penawaran umum sebesar Rp 8.450 miliar.

Setiap saham berhak atas satu waran untuk membeli satu lembar saham Perseroan dengan harga Rp 288. Pasca IPO, MNC Group masih mempertahankan 90% saham pengendali di IPTV, sebelum pelaksanaan waran. Dengan asumsi semua waran dilaksanakan, MNC Group akan mengendalikan 80% dari Perseroan.

Sumber: https://investasi.kontan.co.id/news/mnc-vision-networks-akuisisi-60-saham-k-vision

IHSG naik 0,83% pada sesi I didorong ekspektasi surplus neraca perdagangan

IHSG naik 0,83% pada sesi I didorong ekspektasi surplus neraca perdagangan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melaju di zona hijau pada sesi I perdagangan, Senin (15/7). Mengutip RTI, indeks naik 0,83% atau 52.818 poin ke level Rp 6.426,163.

Tercatat 217 saham naik, 157 saham turun, dan 148 saham stagnan. Total volume perdagangan 12,07 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp 4,59 triliun. Delapan indeks sektoral menopang laju IHSG. Sektor infrastruktur paling tinggi penguatannya 1,45%. Sementara, dua indeks sektoral yang memerah yakni agrikultur turun 0,34%, dan pertambangan turun 0,11%.

Saham-saham top gainers LQ45 antara lain;

– PT Kalbe Farma Tbk (KLBF, anggota indeks Kompas100 ini) naik 4,74% ke Rp 1.435

– PT Aneka Tambang Tbk (ANTM, anggota indeks Kompas100 ini) naik 4,14% ke Rp 880

– PT Charoen Pokphand Tbk (CPIN, anggota indeks Kompas100 ini) naik 3,81% ke Rp 5.450

Saham-saham top losers LQ45 antara lain;

– PT AKR Corporindo Tbk (AKRA, anggota indeks Kompas100 ini) turun 1,40% ke Rp 4.240

– PT Adaro Energy Tbk (ADRO, anggota indeks Kompas100 ini) turun 1,17% ke Rp 1.265

– PT Barito Pacific Tbk (BRPT, anggota indeks Kompas100 ini) turun 1,09% ke Rp 3.620

Penguatan IHSG turut didukung aksi beli investor asing. Tercatat, net buy asing pada sesi pertama ini mencapai Rp 193.223 miliar.  Sentimen positif pasar didorong oleh rekonsiliasi Prabowo Subianto dan Joko Widodo (Jokowi). Serta prediksi kondisi neraca dagang yang akan mengalami surplus.

Sumber: https://investasi.kontan.co.id/news/ihsg-naik-083-pada-sesi-i-didorong-ekspektasi-surplus-neraca-perdagangan

Emisi kecil mendominasi IPO 2019, ini pendapat analis

Emisi kecil mendominasi IPO 2019, ini pendapat analis

Sepanjang 2019 hingga Jumat (12/7), Bursa Efek Indonesia (BEI) telah menerima 32 perusahaan untuk mencatatkan sahamnya. Jika dijumlahkan, dana segar yang berhasil dikumpulkan dari penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) ini mencapai Rp 9,29 triliun.

Kalau dilihat, dana segar yang diincar para emiten ini relatif kecil, rata-rata sebesar Rp 290,52 miliar. Nilai emisi terkecil berasal dari perusahaan yang pertama kali IPO pada tahun ini, yakni PT Sentra Food Indonesia Tbk (FOOD) senilai Rp 20,25 miliar. Sementara itu, nilai emisi terbesar berasal dari PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG Tbk (LIFE) Rp 4,76 triliun yang IPO pada 9 Juli 2019.

Menurut Kepala Riset Koneksi Kapital Indonesia Alfred Nainggolan, tren ini berkaitan dengan kondisi ekonomi pada paruh pertama tahun ini yang cenderung bergejolak. Dengan begitu, perusahaan yang mengincar dana besar dari IPO khawatir tidak bisa mendapatkan harga IPO di level terbaik.

“Kalau dipaksakan sekarang nanti harganya rendah. Underwriter juga jadi tidak terlalu percaya diri karena kalau tidak laku, mereka yang harus menyerap sisa saham yang ditawarkan,” ucap dia saat dihubungi Kontan.co.id, Minggu (14/7).

Di sisi lain, menurut dia, perusahaan yang IPO dengan emisi kecil juga lebih mudah dieksekusi oleh perusahaan sekuritas dengan biaya yang minim. Alasannya, perdagangan dengan nilai emisi kecil akan lebih mudah untuk mendapatkan perolehan di pasar perdana.

Meskipun bernilai emisi kecil, perusahaan-perusahaan ini menambah daftar perusahaan yang tercacat di pasar modal. “Mau size-nya kecil atau besar lebih ke statusnya. Semua emiten punya manfaat yang sama bagi pasar modal,” ungkap dia. Akan tetapi, ia tidak menafikan, IPO emisi besar akan membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tumbuh semakin cepat.

Sementara itu, Kepala Riset Samuel Sekuritas Suria Dharma mengatakan, tren IPO dengan emisi kecil yang mendominasi paruh pertama 2019 menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan yang besar belum minat masuk pasar modal. “Artinya tidak mudah mencari perusahaan dengan emisi besar untuk IPO atau jumlahnya semakin berkurang dari tahun ke tahun, karena sudah banyak yang jadi perusahaan terbuka,”

Menurut Kepala Riset Samuel Sekuritas Suria Dharma, kemungkinan lain adalah karena pemilik perusahaan ini belum mau kepemilikan sahamnya berkurang. Ia menambahkan, jika dilihat dari segi kuantitas, BEI akan mencapai target perusahaan yang IPO tahun ini, yakni di atas 57 perusahaan.

sumber:https://investasi.kontan.co.id/news/emisi-kecil-mendominasi-ipo-2019-ini-pendapat-analis

Tersengat isu perang dagang dan suku bunga AS, kemarin IHSG melemah 0,68%

Tersengat isu perang dagang dan suku bunga AS, kemarin IHSG melemah 0,68%

Ekspektasi penurunan suku bunga Amerika Serikat yang makin kuat telah menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Jumat (12/7) kemarin. Sentimen ini juga diperkuat oleh aroma perang dagang yang kembali sengit.

IHSG ditutup melemah 0,68% dibanding hari sebelumnya ke level 6.373,345 pada perdagangan kemarin. Menurut analis Jasa Utama Capitas Sekuiritas, Chris Aprliony, hari ini Indeks IHSG dipengaruhi oleh isu pemangkasan suku bunga dan perang dagang AS-Tiongkok yang kembali memanas.  Diperkirakan pula isu pemangkasan bunga masih akan menjadi sentimen yang mempengaruhi indeks hingga pekan depan. Chris bahkan memprediksi Bi belum akan menurunkan suku bunga hingga bulan ini yang akan menjadi sentimen negatif bagi pergerakan IHSG.

“Menurut saya BI di tengah ketidakpastian fed rate memangkas suku bunga sebesar 50 basis poin BI di bulan ini belum akan menurunkan BI rate.” Ujar Chris kepada Kontan.co.id, Jumat (12/7).

Nah, diperkirakan isu pemangkasan bunga masih akan menjadi sentimen yang mempengaruhi indeks hingga pekan depan. Dengan adanya sentimen negatif ini, Chris memproyeksikan IHSG pekan depan akan berada di level 6270-6390 .

Sumber: https://investasi.kontan.co.id/news/tersengat-isu-perang-dagang-dan-suku-bunga-as-kemarin-ihsg-melemah-068

IHSG menguat tipis di awal perdagangan Jumat

Turun pada pra perdagangan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berusaha bangkit pada pagi ini. Jumat (12/7) pukul 9.13 WIB, IHSG menguat tipis 5 poin atau 0,08% ke 6.422. Enam sektor mengangkat IHSG ke area positif. Sektor properti dan konstruksi memimpin kenaikan sebesar 0,44%. Sektor perdagangan, jasa, dan investasi menguat 0,35%. Sektor perkebunan naik 0,32%. Sektor keuangan dan industri dasar naik masing-masing 0,18%.

Sedangkan sektor aneka industri turun 0,65%. Sektor infrastruktur pun tergerus 0,26%. Sektor pertambangan terkoreksi tipis 0,05%.

Top gainers LQ45 pagi ini adalah:

  • PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) 3%
  • PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) 1,31%
  • PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) 1%

Top losers LQ45 terdiri dari:

  • PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) -1,17%
  • PT XL Axiata Tbk (EXCL) -1,03%
  • PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) -0,91%

Investor asing mencatat pembelian bersih Rp 37,17 miliar di seluruh pasar. Saham-saham dengan pembelian bersih terbesar asing adalah MNCN Rp 21 miliar, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp 16,4 miliar, dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 3,9 miliar.

Saham-saham dengan penjualan bersih terbesar asing adalah PT Timah Tbk (TINS) Rp 3,6 miliar, PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) Rp 3,1 miliar, dan PT Bank Danamon Tbk (BDMN) Rp 1,5 miliar.

sumber: https://investasi.kontan.co.id/news/ihsg-menguat-tipis-di-awal-perdagangan-jumat-1

 

IHSG berakhir di zona merah meski sempat menguat

Melaju di awal perdagangan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun tipis pada akhir perdagangan sesi I. Kamis (11/7) pukul 12.00 WIB, IHSG turun 4,67 poin atau 0,07% ke 6.406,01.

Enam sektor menyeret IHSG ke zona merah. Sektor industri dasar turun 1,05%. Sektor manufaktur turun 0,56%. Sektor barang konsumen turun 0,51%. Sedangkan sektor perkebunan tergerus 0,49%.

Empat sektor masih menguat hingga siang ini. Sektor konstruksi menguat 0,97%. Sektor keuangan menguat 0,20%. Sedangkan sektor perdagangan dan jasa naik 0,11%, disusul oleh sektor aneka industri yang menguat tipis 0,04%. Total volume transaksi bursa mencapai 13,28 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 5,22 triliun. Penurunan harga tampak pada 188 saham. Masih ada 183 saham yang bergerak menguat. Sebanyak 142 saham lainnya bergerak mendatar.

Top gainers LQ45 hingga siang ini adalah:

  • PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) 4,37%
  • PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) 2,70%
  • PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) 1,22%

Top losers LQ45 terdiri dari:

  • PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) -3,49%
  • PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk (INKP) -3,14%
  • PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) -2,50%

Investor asing mencatat pembelian bersih Rp 63,79 miliar di pasar reguler. Total pembelian bersih asing di seluruh pasar mencapai Rp 500,67 miliar.

Saham-saham dengan pembelian bersih terbesar asing adalah PT Astra International Tbk (ASII) Rp 639,7 miliar, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp 47,7 miliar, dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 38,2 miliar. Saham-saham dengan penjualan bersih terbesar asing adalah PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) Rp 162,1 miliar, CPIN Rp 15,8 miliar, dan PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk (INKP) Rp 15 miliar.

sumber:https://investasi.kontan.co.id/news/ihsg-berakhir-di-zona-merah-meski-sempat-menguat

Saham teknologi menopang Wall Street yang tertekan potensi perlambatan kinerja emiten

Indeks saham Wall Street bergerak mixed dengan mayoritas penurunan tipis. Selasa (9/7), Dow Jones Industrial Average turun 0,08% ke 26.783,49.

Indeks S&P 500 menguat 0,12% ke 2.979,63. Sedangkan indeks Nasdaq semalam ditutup naik 0,54% ke 8.141,73.

Saham-saham sektor teknologi mampu menahan penurunan akibat kekhawatiran outlook laba yang memburuk. Kemarin, saham Amazon.com, Facebook Inc, Apple Inc menjadi penopang indeks S&P 500 dan Nasdaq. Investor hari ini menunggu pernyataan Gubernur Federal Reserve Jerome Powell di depan Kongres. Hari ini juga, bank sentral akan merilis risalah rapat The Fed bulan Juni.

“Mungkin akan ada kejelasan dalam beberapa hari mendatang setelah dengar pendapat Powell,” kata Bucky Hellwig, senior vice president BB&T Wealth Management kepada Reuters. Emiten penghuni S&P 500 akan mulai merilis laporan keuangan kuartal kedua pada pekan depan. Analis memperkirakan, laba emiten S&P 500 di kuartal kedua turun 0,2% secara tahunan. Ini adalah prediksi dari data Refinitiv IBES.

Kabar lainnya, Amerika Serikat (AS) dan China akan memulai kembali pembicaraan dagang pada pekan ini setelah terhenti dua bulan. Penasihat ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow mengatakan, pembicaraan dagang dengan Uni Eropa juga berlanjut.

sumber:https://investasi.kontan.co.id/news/saham-teknologi-menopang-wall-street-yang-tertekan-potensi-perlambatan-kinerja-emiten

Indonesia jadi tujuan investasi valas dan obligasi pilihan 42 fund manager global

Prospek investasi di negara emerging market menjadi lebih terang di semester II ini berkat ekspektasi kebijakan moneter yang lebih longgar. Kabar baiknya, Indonesia menjadi salah satu tujuan utama para investor. Setidaknya ini tergambar dalam survei terbaru Bloomberg terhadap 42 fund manager global. Dari hasil survei tersebut menunjukkan Indonesia dan Rusia menjadi tujuan investasi utama untuk instrumen valas dan obligasi dari para fund manager global.

Dari 11 negara emerging market, Indonesia berada pada urutan teratas untuk tujuan investasi obligasi, sementara Rusia di posisi kedua. Sebaliknya, Rusia di tempat pertama tujuan investor untuk investasi valas dan Indonesia mengekor di urutan kedua. Sedangkan untuk investasi saham, investor lebih menyukai China dan Brasil untuk tujuan investasi. Sementara, investor global paling tidak menyukaai investasi valas, obligasi maupun saham di Tukri dan Argentina.

Ahmad Mikail Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia tak heran bila instrumen valas dan obligasi Indonesia menjadi buruan inevstor global. Lihat saja, selisih atau spread yield SUN dengan yield US Treasury kini semakin melebar yang berarti posisi yield SUN saat ini sangat menarik dan bisa mendorong para investor untuk masuk ke pasar obligasi Indonesia.

“Bond menarik karena selisih yield US Treasury dengan yield SUN sekitar 535 basis poin, dari rata-rata spread obligasi dengan rating BBB di  450 bps-500 bps. Jadi ini menarik banget,” kata Mikail, Jumat (5/7).

Asing pun juga tertarik masuk ke mata uang rupiah. Mikail mengatakan, asing membutuhkan instrumen besar untuk investasi di valas, yaitu dengan mengincar SUN.”Sayang kalau punya dollar AS lalu ingin tukar ke rupiah malah tidak dapat apa-apa atau cuma nunggu kenaikan rupiah, ini sayang bisa kena loss. Jadi kalau kepemilikan asing di SUN naik otomatis valas juga menguat,” kata Mikail.

Namun, dalam jangka pendek, Mikail memproyeksikan masih bisa terjadi fluktuasi. Pelaku pasar kini sedang menanti data ketenagakerjaan AS dan kapan The Fed akan memangkas suku bunga acuannya. “Jika The Fed memotong suku bunga di akhir tahun akan fluktuasi masih bisa terjadi,” kata Mikail.

sumber : https://investasi.kontan.co.id/news/indonesia-jadi-tujuan-investasi-valas-dan-obligasi-pilihan-42-fund-manager-global