Suku bunga turun, begini rekomendasi Bahana Sekuritas untuk emiten sektor perbankan

Bank Indonesia (BI) dalam dua bulan terakhir telah menurunkan suku bunga acuannya sebanyak dua kali. Pada Juli 2019, BI menurunkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI 7-DRR) sebanyak 25 basis point (bps), dari 6% menjadi 5,75%. Kemudian, pada Agustus ini, suku bunga acuan BI diturunkan lagi sebanyak 25 bps menjadi 5,5%.

Kepala Riset Bahana Sekuritas Lucky Ariesandi menilai, ruang penurunan suku bunga masih terbuka. Menurut dia, BI berpeluang menurunkan suku bunga sebanyak 50 bps lagi menjadi 5% hingga akhir tahun. ‘’Langkah penurunan ini akan membantu perbaikan neraca perdagangan dan dana asing bakal masuk ke surat utang pemerintah yang pada akhirnya hal ini akan menopang nilai tukar,’’. Menurut dia, salah satu sektor saham yang mendapat sentimen positif dari tren pelonggaran moneter ini adalah perbankan. Apalagi bank-bank yang memiliki dana murah yang sedikit dan valuasi saham yang rendah.

Salah satunya adalah PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Lucky melihat, penurunan suku bunga ini dapat memberikan ruang bagi BBNI untuk ekspansi kredit dengan rasio net interest margin (NIM) yang stabil serta rasio kredit bermasalah yang membaik.

Oleh karena itu, ia memberikan rekomendasi buy atas saham BBNI. Begitu juga dengan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) akan mendapat sentimen positif karena porsi dana murahnya belum terlalu besar.

Berbeda halnya dengan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang memiliki dana murah yang cukup besar.  ‘’Dengan tren penurunan suku bunga yang terjadi saat ini, ruang bagi kedua bank tersebut untuk mempertahankan NIM jadi lebih kecil. Valuasi saham keduanya juga sudah cukup tinggi,’’ ungkap Lucky.

Sementara itu, ia menilai, peluang bank skala menengah seperti PT Bank Danamon Tbk (BDMN) dan PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) masih terbatas setelah diambil alih oleh Bank Sumitomo Mitsui Indonesia. Pasalnya, Bank Danamon yang akan merger dengan Bank Nusantara Parahyangan, setelah keduanya dimiliki oleh Mitsubishi UFJ Financial Group Inc. juga belum akan melakukan ekspansi bisnis hingga seluruh proses merger selesai.

sumber:https://investasi.kontan.co.id/news/suku-bunga-turun-begini-rekomendasi-bahana-sekuritas-untuk-emiten-sektor-perbankan

Harga emas terus melaju didorong kekhawatiran tentang resesi ekonomi global

Harga emas lagi-lagi naik dan menembus rekor barunya dipicu kekhawatiran resesi global. Rabu (28/8) pukul 08.07 WIB, harga emas untuk pengiriman Desember 2019 di Commodity Exchange ada di US$ 1.553,40 per ons troi, naik 0,10% dibanding sehari sebelumnya yang ada di US$ 1.551,80 per ons troi.

Sementara di pasar spot, harga emas ada di US$ 1.542,63, turun tipis 0,01% dari level tertingginya sebesar US$ 1.542,81 per ons troi yang dicapai sehari sebelumnya.

Kenaikan harga emas ditopang oleh kekhawatiran resesi ekonomi menyusul data ekonomi Amerika Serikat yang mengecewakan dan ketidakpastian penyelesaian sengketa perdagangan antara AS dengan China.

Kepercayaan konsumen AS melemah pada bulan Agustus dan pertumbuhan harga rumah mencapai laju paling lambat dalam hampir tujuh tahun.

“Banyak orang khawatir tentang ekonomi AS dan data-data ekonomi AS seperti kepercayaan konsumen yang melemah membuatnya sedikit dipertanyakan,” kata Chris Gaffney, presiden pasar dunia TIAA Bank seperti dikutip Reuters.

“Inversi kurva yield US Treasury merupakan sinyal resesi. Itu menambah aliran ke emas sebagai tempat yang aman.”

Pada Selasa lalu, inversi kurva yield US Treasury terlihat lebih dalam dan menimbulkan kekhawatiran baru tentang resesi AS.

Sementara itu, komentar Presiden AS Donald Trump tentang peluang kesepakatan dagang dengan China membuat kekhawatiran pasar mereda, namun tak berlangsung lama lantaran ketidakpastian kembali meningkat pasca Beijing menyatakan belum ada konfirmasi dari AS tentang kelanjutan perundingan dagang.

“Kami terus mengkhawatirkan ekonomi global,” kata Bart Melek, kepala strategi komoditas TD Securities Toronto.

sumber: https://investasi.kontan.co.id/news/harga-emas-terus-melaju-didorong-kekhawatiran-tentang-resesi-ekonomi-global

Rupiah di pasar spot dibuka stagnan pada awal perdagangan pagi ini

Rupiah di pasar spot dibuka stagnan pada perdagangan Selasa (27/8). Pukul 08.08 WIB, rupiah ada di level Rp 14.243 per dolar Amerika Serikat (AS), tak bergerak dari posisi sehari sebelumnya yang ada di Rp 14.423 per dolar AS.

Namun, pagi ini masih ada sejumlah mata uang Asia lainnya yang melemah terhadap dolar AS, yakni yuan China yang melemah 0,77%, rupee India yang melemah 0,49%, ringgit Malaysia melemah 0,31%, pesso Filipina melemah 0,27%, dolar Hong Kong melemah 0,01% dan dolar Singapura melemah 0,01%.

Sementara itu, beberapa mata uang Asia lainnya justru menguat terhadap dolar AS, seperti won Korea yang menguat 0,34%, yen Jepang menguat 0,26%, baht Thailand menguat 0,07% dan dolar Taiwan yang menguat 0,07%.

Indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar mata uang dolar AS terhadap mata uang utama dunia pagi ini ada di 98,00, turun tipis dari sehari sebelumnya yang ada di 98,08.

sumber: https://investasi.kontan.co.id/news/rupiah-di-pasar-spot-dibuka-stagnan-pada-awal-perdagangan-pagi-ini

Perbedaan Tugas & Sistem Akuntansi Pembelian dan Penjualan

Pembelian dan penjualan adalah kegiatan utama bisnis dengan sistem akuntansi yang berbeda. Karena menjadi kegiatan utama, biasanya perusahaan akan memiliki staf khusus dalam menangani transaksi pembelian maupun penjualan. Jika bisnis masih terbilang kecil, perusahaan biasanya akan menjadikan salah satu stafnya memegang 2 tugas sekaligus, yaitu menanganai kegiatan pembelian dan penjualan. Sedangkan, jika bisnis tersebut telah terbilang besar atau menengah, tugas bagian pembelian akan dibedakan dengan tugas bagian penjualan.

Bedanya Tugas Bagian Pembelian & Penjualan

Tugas Bagian Pembelian

  1. Melakukan pembelian atas seluruh kebutuhan perusahaan untuk membantu dan memenuhi kegiatan operasional.
  2. Mencari dan menganalisa calon supplier sesuai dengan material barang yang dibutuhkan.
  3. Melakukan negosiasi harga sesuai standar kualitas.
  4. Memastikan pengiriman material sesuai dengan tanggal yang ditentukan.
  5. Melakukan koordinasi kepada supplier mengenai kelengkapan dokumen yang dibutuhkan.
  6. Memastikan material atau barang yang dibeli sesuai dengan standar kualitas yang berlaku.
  7. Berkoordinasi dengan PPIC (Production Planning Inventory Control) dan gudang tentang jadwal dan jumlah barang yang akan dipesan.
  8. Membuat laporan pembelian dan pengeluaran barang.
  9. Melakukan pengelolaan pengadaan barang melalui perencanaan yang sistematis dan terkontrol.
  10. Memilih dan menyeleksi supplier sesuai kriteria perusahaan.
  11. Bekerja sama dengan departemen terkait untuk memastikan kegiatan operasional berjalan dengan lancar
  12. Memastikan kesediaan barang melalui mekanisme audit, stok kontrol, dan lain sebagainya.

Tugas Bagian Penjualan

  1. Melakukan penjualan dengan mencari klien atau pelanggan dengan aktif untuk mendapatkan pendapatan perusahaan.
  2. Melakukan analisa pelanggan untuk mencari tahu apa yang dibutuhkan mereka.
  3. Menjalin komunikasi kepada pelanggan untuk menjaga hubungan baik
  4. Mengatur dan mengawasi pelaksanaan pekerjaan administrasi penjualan seperti membuat faktur atau invoice, delivery order, dan pekerjaan administrasi lainnya di bidang pemesanan.
  5. Menyusun laporan penjualan dan membuat statistik penjualan berdasarkan angka-angka yang diperoleh.
  6. Mengumpulkan dokumen dan catatan yang diperlukan bagian penjualan.
  7. Memberikan informasi tentang ketersedian stok, rencana pengiriman.
  8. Mengawasi pelaksanaan pemesanan ke pusat sesuai dengan rencana pemesanan yang telah disetujui.
  9. Melacak pesanan sampai dengan realisasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
  10. Membuat dan meyerahkan laporan pemesanan dan penjualan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Fungsi Akuntansi Pembelian & Penjualan

Fungsi Akuntansi Pembelian

  1. Fungsi Gudang: Bertanggung jawab untuk mengajukan permintaan pembelian sesuai dengan persediaan yang ada pada gudang.
  2. Fungsi Pembelian: Bertanggung jawab untuk memperoleh informasi mengenai harga, menentukan supplier yang dipilih, dan mengeluarkan order pembelian.
  3. Fungsi Penerimaan: Bertanggung jawab untuk memeriksa jenis, mutu, dan kualitas barang yang diterima dari supplier, serta bertanggung jawab menerima barang dari transaksi retur penjualan.
  4. Fungsi Akuntansi: Bertanggung jawab untuk melakukan pencatatan harga pokok persediaan yang dibeli ke dalam kartu persediaan. Serta, bertanggung jawab menyimpan bukti kas keluar yang berfungsi sebagai catatan utang.

Fungsi Akuntansi Penjualan

  1. Fungsi Kas: Bertanggung jawab sebagai penerima kas dari pembeli atau pelanggan.
  2. Fungsi Gudang: Bertanggung jawab dalam menyediakan barang yang diperlukan pelanggan sesuai dengan yang tercantum dalam tembusan faktur penjualan yang diterima.
  3. Fungsi Pengiriman: Bertanggung jawab menyerahkan barang dengan kualitas, mutu, dan spesifikasi sesuai dengan yang tercantum pada faktur (invoice) penjualan.
  4. Fungsi Akuntansi: Bertanggung jawab dalam pencatatan transaksi penjualan dan penerimaan kas, serta pembuatan laporan penjualan.

Mengatur Fungsi Pembelian dan Penjualan dengan Jurnal

Dengan menggunakan Jurnal sebagai software akuntansi online, Anda dapat memisahkan tugas dari masing-masing bagian. Pada roles penjualan dan pembelian, Jurnal membaginya ke dalam 3 bagian yaitu:

Penagihan & Retur

Jika Anda diberikan akses untuk penagihan dan retur saja, Anda dapat melakukan beberapa fungsi akuntansi dalam Jurnal seperti.

  1. Melihat daftar faktur, pengiriman (E), pemesanan (E) dan penawaran (E) penjualan/pembelian.
  2. Membuat penagihan dari pemesanan dan penawaran penjualan.
  3. Membuat penagihan dari pemesanan dan penawaran pembelian.
  4. Membuat penagihan penjualan baru dan penagihan pembelian baru.
  5. Membuat retur penjualan, dan retur pembelian.

Pemesanan & Penawaran

Jika Anda diberikan akses untuk pemesanan dan penawaran, Anda dapat melakukan beberapa fungsi akuntansi dalam Jurnal seperti.

  1. Membuat pemesanan dan penawaran penjualan baru dan pembelian baru.
  2. Membuat pemesanan dari penawaran penjualan dan penawaran pembelian.

Pembayaran

Jika Anda diberikan akses untuk pembayaran, Anda dapat melakukan beberapa fungsi akuntansi dalam Jurnal seperti.

  1. Melakukan pelunasan faktur penjualan dan pembelian
  2. Melakukan pelunasan pemesanan penjualan dan pembelian.
  3. Membuat dan mengembalikan credit memo dari pelanggan/supplier.
  4. Menggunakan credit memo untuk melunasi penjualan/pembelian.

 

 

https://www.jurnal.id/id/blog/2017-perbedaan-tugas-sistem-akuntansi-pembelian-dan-penjualan/

Inilah saham-saham bank rekomendasi analis pasca pemangkasan suku bunga BI

Suku bunga Bank Indonesia (BI) kembali dipangkas untuk kedua kalinya tahun ini. Seperti yang diketahui, dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Kamis (22/8) lalu, BI memutuskan untuk menggunting suku bunga acuan BI 7 day reverse repo rate (BI7DRRR) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,5%. Sebelumnya, BI memangkas suku bunga acuannya dari 6% menjadi 5,75% pada Juli 2019 lalu.

Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta Utama mengatakan penurunan suku bunga acuan tentu menjadi sentimen positif untuk emiten perbankan. Sebab, Nafan menilai penyaluran kredit perbankan berpotensi akan meningkat.

Secara teknikal, hal itu juga terbukti dari pergerakan saham sektor keuangan yang meningkat setelah BI mengumumkan keputusan kebijakan moneternya.

“Rabu dan Kamis kemarin, saham-saham emiten mengalami pelemahan menjelang hasil Rapat Dewan Gubernur BI. Pelaku investor menunggu. Namun, usai pengumuman penurunan suku bunga, otomatis terjadi kenaikan pada sektor keuangan,” ujar Nafan kepada kontan.co.id, Jumat (23/8).

Nafan menambahkan kenaikan saham sektor keuangan rata-rata ditopang oleh bank-bank BUKU IV. Ia memproyeksi saham emiten perbankan khususnya bank BUKU IV akan memiliki prospek yang bagus.

Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat pada Jumat (23/8), indeks sektor keuangan naik 0,06% atau setara 0,69 poin. Sementara, pada Kamis (22/8), indeks tersebut juga menguat 0,29% atau 5,8 poin.

Data BEI juga mencatatkan saham bank-bank buku IV yang menguat usai pengumuman BI, antara lain PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menguat 0,49% di level Rp 4.070 per saham, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) stagnan di level Rp 7.225 per saham, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) naik 0,33% di level Rp 7.600 per saham, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menguat 0,42% ke level Rp 30.000 per saham, PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) Tbk naik 0,47% di level Rp 1.065 per saham, dan PT Bank Pan Indonesia Tbk (PNBN) menguat 0,68% Rp 1.470 per saham.

Meski harga sejumlah saham bank sudah naik, Nafan menilai masih ada peluang harga saham emiten perbankan kembali naik. Namun, hal itu bergantung dengan kinerja fundamentalnya.

“Secara PBV, sudah naik tinggi. Akan tetapi, selama bank bisa meningkatkan kinerja yang positif serta berkomitmen dalam membagikan dividen, maka investor akan terus mengapresiasi,” tambah Nafan.

Vice President Artha Sekuritas Frederick Rasali menambahkan kenaikan harga saham bank tergantung dari kondisi pasar. Apabila pertumbuhan bank masih cukup kuat, Frederick menilai peningkatan harga masih bisa sejalan dengan kondisi fundamental sehingga memungkinkan untuk terus naik. Namun jika pertumbuhan bank tersebut lambat, harga saham justru akan turun.

Frederick juga mengatakan emiten perbankan selalu menjadi pilihan selama ekonomi Indonesia berkembang, terlebih lagi dengan Bank BUKU IV. Namun, ia menyatakan jika valuasi terlalu tinggi, investor justru kurang berminat terhadap bank tersebut.”Dalam berinvestasi dengan saham perbankan rasio PBV, RoE, dan juga NIM bank terebut harus selalu diperhatikan,”.

Menurut Nafan, para pelaku pasar dan investor akan semakin tertarik dengan emiten bank ketika mereka juga berkomitmen untuk menurunkan atau menjaga non performing loan (NPL) tetap rendah. Sebab, hal itu dinilai dapat mendorong stimulus penyaluran kredit bank menjadi meningkat.

Oleh karena itu, baik Nafan ataupun Frederick sama-sama merekomendasi beli saham emiten perbankan. Frederick merekomendasi beli saham bank BUKU IV seperti PT Bank Pan Indonesia Tbk (PNBN), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA). Alasannya karena rasio PBV ketiga emiten tersebut yang masing-masing 0,89x; 1,24x; dan 0,65x.

Sementara, Nafan merekomendasikan akumulasi beli saham BBNI dan BBTN.

sumber: https://investasi.kontan.co.id/news/inilah-saham-saham-bank-rekomendasi-analis-pasca-pemangkasan-suku-bunga-bi?page=2

Perang dagang memanas, bankir putar otak untuk mendorong kredit ekspor-impor

Perang dagang antar Amerika Serikat (AS) dan China jadi tantangan perbankan dalam negeri dalam menyalurkan kredit ekspor impor. Maklum kedua negara itu merupakan negara tujuan ekspor utama Indonesia.

Kendati begitu, bank akan tetap menyiapkan strategi guna bisa memacu kredit di segmen ini. PT Bank Negara Indonesia Tbk misalnya memilih untuk semakin aktif melakukan pendampingan pada eksportir di Indonesia.

Di samping itu, BNI juga akan semakin mengaktifkan kantor cabangnya di luar negeri seperti di Singapora, Hongkong, Tokyo, Seoul, London, New York melakukan pembiayaan trade finance ke perusahaan di luar negeri.

Dengan begitu, Direktur Tresuri dan Internasional BNI Rico Rizal Budidarmo menyakini, kredit ekspor impor perseroan masih akan tumbuh dengan baik. “Kami tetap menargetkan pertumbuhan 36,5% sampai akhir tahun,” ujarnya pada Kontan.co.id, Rabu (21/8).

Hingga akhir Juli 2019, berkode saham BBNI ini mencatatkan penyaluran kredit ekspor impor tumbuh 40,6% year on year (yoy). Mayoritas kredit mengalir ke perusahaan trading dan manufaktur yang berorientasi ekspor.

Sedangkan Bank mandiri hanya mencatatat pertumbuhan satu digit hingga Juli yakni 9,4% yang ditopang oleh peningkatan volume impor sebesar 28,2%.Sedangkan pertumbuhan volume ekspor masih tercatat stagnan.

Menurut Rohan Hafas, Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri, perang dagang terutama akan berdampak pada ekspor di sektor berbasis komoditas, alat berat dan otomotif.

Walaupun begitu, Bank Mandiri tetap mencoba mendorong agar kredit ekspor impor tumbuh. Strateginya, memberikan solusi dana layanan ekspor impor kepada nasabah yang memiliki jalur penjualan dan pembelian di luar negeri.

“Itu akan dilakukan lewat kerjasama dengan Bank Mandiri Cabang Kantor Luar Negeri terutama perusahaan sektor perkebunan dan pertambangan, serta memperbanyak hubungan kerjasama antar bank dengan Global Bank dan dengan perusahaan Asuransi,” kata Rohan.

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga akan terus berupaya mendorong pembiayaan di sektor ini di tengah perang dagang. Caranya dengan terus menggali kebutuhan nasabah akan layanan ekspor-impor.

“Hubungan dengan bank-bank koresponden senantiasa dibangun untuk mendukung layanan perbankan yang berhubungan dengan negara-negara lain.” kata Jan Hendra, Sekretaris Perusahaan BCA.

Sebagai informasi, sampai dengan akhir semester I 2019, kredit ekspor impor BCA telah bertumbuh 25.2% menjadi Rp7.9 triliun dibandingkan Rp6.3 triliun di periode yang sama pada tahun sebelumnya. Dari nilai tersebut, kontribusi kredit dengan orientasi penggunaan ekspor mencapai hingga 75% dari total kredit ekspor impor.

sumber: https://keuangan.kontan.co.id/news/perang-dagang-memanas-bankir-putar-otak-untuk-mendorong-kredit-ekspor-impor?page=2

 

Mengenal disgorgement fund, jurus OJK melindungi investor pasar modal

Pasar modal memiliki peran penting bagi perekonomian Indonesia. Selain sebagai pendanaan usaha, pasar modal juga berfungsi sebagai sarana bagi masyarakat untuk berinvestasi pada instrumen keuangan.

Selain menabung, melakukan investasi di pasar modal kini menjadi tren yang sedang berkembang di masyarakat. Masyarakat pun kini banyak yang menjadi investor dengan membeli saham perusahaan terbuka atau emiten yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Seiring meningkatnya minat investasi masyarakat, muncullah kekhawatiran akan tindakan penipuan (fraud) yang dilakukan emiten ‘nakal’ kepada investor.

Untuk itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sedang menggodok aturan disgorgement fund atau pembentukan dana bagi investor yang akan mengganti kerugian investor di pasar modal.

Tak main-main, OJK bahkan telah menerbitkan Rancangan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (RPOJK) mengenai disgorgement fund yang diunggah di situs resminya. Rancangan tersebut mengatur dua hal yakni mekanisme disgorgement dan dana disgorgement.

Salah satu hal yang menjadi pertimbangan OJK merilis beleid ini adalah perlu adanya penguatan instrumen penegakan hukum yang dapat menciptakan efek jera bagi pihak yang melakukan pelanggaran peraturan perundang-undangan di pasar modal. Dengan begitu, kerugian investor di pasar modal bisa diminimalisir.

Namun perlu diingat, kerugian investor yang nanti akan diganti adalah kerugian akibat pelanggaran hukum yang dilakukan di pasar modal. Bukan kerugian yang disebabkan keputusan atau risiko investasi dari investor itu sendiri.

Jika menilik ke belakang, gagasan pembentukan disgorgement fund datang dari Securities and Exchange Commision (SCE) di Amerika Serikat (AS).

Lembaga pengawas pasar modal AS itu sudah terlebih dahulu membentuk disgorgement fund untuk menyelesaikan permasalahan yang timbul akibat pelanggaran berupa transaksi semu alias goreng saham, transaksi dengan informasi “orang dalam” atau insider trading, hingga penyalahgunaan dana nasabah.

BEI menargetkan aturan disgorgement fund sudah bisa diimplementasikan pada tahun ini. Meski demikian, OJK mengaku saat ini aturan disgorgement fund telah memasuki tahap ‘rule making rule internal‘.

Untuk diketahui, tahap ini adalah tahap harmonisasi internal yang dilakukan setelah OJK menerima pendapat dari publik.Tahap ini dilakukan setelah OJK meminta pendapat publik pada Maret 2019 lalu.

Dengan dibentuknya disgorgement fund oleh OJK, diharapkan kepercayaan masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal bisa semakin meningkat. Dan yang terpenting memberikan efek jera bagi emiten-eminten ‘nakal’ agar tercipta iklim pasar modal Indonesia yang sehat.

sumber:https://investasi.kontan.co.id/news/mengenal-disgorgement-fund-jurus-ojk-melindungi-investor-pasar-modal

BPJS Kesehatan defisit, berikut faktor penyebabnya menurut Menkeu

Pemerintah terus mengidentifikasi penyebab defisit keuangan yang dialami Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, salah satu penyebab utama defisit keuangan BPJS Kesehatan adalah ketidakmampuan BPJS Kesehatan untuk mengumpulkan penerimaan yang seharusnya.

“Terutama peserta bukan penerima upah (PBPU) dan peserta bukan pekerja yang tidak membayar teratur, namun sebagian besar menikmati layanan sehingga BPJS Kesehatan mengalami situasi sekarang,” ujar Sri Mulyani dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR Rabu (21/8).

Menurut Sri Mulyani, per 1 Agustus 2019, total peserta JKN mencapai 223,35 juta jiwa. Jumlah itu terdiri dari penerima bantuan iuran (PBI) yang ditanggung APBN sebanyak 96,59 juta jiwa dan PBI ditanggung APBD sebanyak 37,34 juta jiwa.

Selain itu, peserta dari pekerja penerima upah (PPU) pemerintah yang meliputi ASN, TNI dan Polri sebanyak 17,54 juta jiwa. PPU Badan Usaha yang meliputi BUMN dan badan swasta lainnya sebanyak 34,13 juta jiwa.

Sementara, peserta bukan penerima upah (PBPU) sebanyak 32,59 juta dan peserta bukan pekerja (pensiunan) sebanyak 5,16 juta.

Selama ini, pemerintah bertanggungjawab menanggung iuran untuk PBI dan PPU pemerintah. Alokasi bantuan iuran yang dianggarkan pun terus meningkat sejak 2014-2018.

Realisasi bantuan iuran untuk PBI naik dari 19,9 triliun di 2014, menjadi Rp 25,5 triliun seiring dengan kenaikan jumlah peserta menjadi 96,8 juta jiwa. Adapun, realisasi bantuan iuran PPU Pemerintah naik dari 4,5 triliun menjadi Rp 5,4 triliun di 2018.

“Seluruh kewajiban pemerintah untuk membayar, kami bayar tidak hanya tepat waktu, bahkan lebih cepat dari waktu untuk membantu arus kas BPJS,” tutur Sri Mulyani.

Menurutnya, permasalahan ada pada tingkat kepesertaan aktif PBPU yang masih rendah, yaitu hanya 53,72%.  Selain itu, permasalahan juga bersumber dari kecurangan (fraud) yang dilakukan pihak rumah sakit pelaksana sistem JKN.

Sri Mulyani menjelaskan, hasil audit BPKP menemukan kasus adanya rumah sakit yang memanipulasi kategori kelasnya untuk mendapat dana lebih besar dari seharusnya.

Seperti yang diketahui, rumah sakit pelaksana JKN terbagi ke dalam kategori A, B, C, dan D dengan rumah sakit kategori A memiliki biaya paling besar dan kategori D dengan biaya paling kecil.

“Ini yang coba dirapikan oleh Kementerian Kesehatan sekarang dengan melakukan review penggolongan seluruh rumah sakit,” pungkasnya.

sumber:https://nasional.kontan.co.id/news/bpjs-kesehatan-defisit-berikut-faktor-penyebabnya-menurut-menkeu

Bunga BRI tertinggi, ini update bunga deposito BCA, BNI, BRI dan Bank Mandiri

Simpanan deposito perbankan tetap pilihan favorit menyimpan kelebihan dana. Ingin menyimpan dana di deposito? Berikut update bunga deposito di empat bank terbesar yakni, Bank BCA, Bank Mandiri, Bank BNI dan Bank BRI.

Merujuk data Pusat Informasi Pasar Uang (PIPU) per 19 Agustus 2019, dari empat bank besar itu, Bank BRI memasang bunga paling tinggi untuk deposito tenor 1 bulan, 6 bulan dan 12 bulan.

Untuk deposito tenor 1 bulan, BRI menawarkan bunga 6%. Di deposito tenor 1 bulan, penawaran bunga Bank Mandiri paling rendah yakni 4,26%.

Sementara deposito tenor 3 bulan, Bank Mandiri memberi penawaran bunga paling tinggi yakni 6,51%. Sedangkan paling rendah Bank BCA 5,5%.

Lalu deposito tenor 6 bulan, BRI paling tinggi bunganya sebesar 6,25%, terendah Bank Mandiri 5,88%.

Pun di deposito tenor 12 bulan, bunga dari BRI tertinggi yakni 6,25%. Sementara bunga terendah dipasang Bank Mandiri 5,5%.

Berikut penawaran bunga deposito empat bank besar yang datanya dihimpun PIPU per 19 Agustus 2019:

 

Bank 1 Bulan 3 Bulan 6 Bulan 12 Bulan
Bank BCA 5,25 % 5,50 % 5,63 % 5,63 %
Bank Mandiri 4,26 % 6,51 % 5,88 % 5,50 %
Bank BNI 5,63 % 6,25 % 6,00 % 5,75 %
Bank BRI 6,00 % 6,25 % 6,25 % 6,25 %

sumber:https://keuangan.kontan.co.id/news/bunga-bri-tertinggi-ini-update-bunga-deposito-bca-bni-bri-dan-bank-mandiri-198

Waspadai ancaman resesi global, begini saran analis

Bayang-bayang kekhawatiran resesi ekonomi global kembali menghantui pasar modal. Indeks saham sejumlah negara, termasuk IHSG, merosot.

Kamis (15/8), Dow Jones Industrial Average (DJIA) bahkan sempat anjlok 800 poin. Per pukul 22.16 WIB, DJIA bertengger di 25.454,59, turun 0,10% dari posisi hari sebelumnya. Sebulan terakhir, DJIA telah mengakumulasi penurunan lebih dari 6%.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga sempat melemah 1% pada perdagangan kemarin. Indeks saham akhirnya ditutup turun 0,16% ke 6.275,59. Satu bulan terakhir, indeks turun 2,28%.

Kekhawatiran terjadinya resesi global menguat lantaran terjadi inversi pada yield obligasi Amerika Serikat (AS). Untuk pertama kali sejak 2017, yield obligasi AS tenor 2 tahun kini melebihi yield obligasi tenor 10 tahun.

Yield obligasi AS tenor 10 tahun Rabu lalu ada di level 1,562%. “Inversi yield memiliki track record yang kuat dalam memprediksi resesi di AS,” ujar analis Mirae Asset Sekuritas, Hariyanto Wijaya dalam risetnya, Kamis (15/8).

Ekonom Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Fikri C. Permana membaca sinyal inversi kurva yield telah tampak sejak April 2019. Bahkan, inversi kurva yield bukan cuma terjadi di AS. “Di Jepang dan Jerman salah satunya sudah mencatatkan yield negatif,” kata Fikri, kemarin.

Karena itulah, muncul kekhawatiran resesi global. Fikri menuturkan, dalam 50 tahun terakhir, terjadi 7 kali resesi usai terjadi inversi kurva yield. Rata-rata inversi tampak 18 bulan sebelum resesi.

Perang dagang AS dan China juga masih panas. Belakangan, tensi agak turun setelah Presiden AS Donald Trump menunda penerapan tarif impor 10% atas produk asal China hingga 15 Desember mendatang.

Pelaku pasar saat ini cenderung mengambil sikap risk aversion. Indeks Fear & Greed, kemarin, berada di level 20, menunjukkan investor berada di posisi extreme fear. “Itu mengapa investor asing saat ini beralih ke posisi risk-off,” tambah Hariyanto.

Tak heran, dana asing banyak keluar dari pasar saham, terutama di negara emerging market. Investor asing tampak keluar dari pasar saham di kuartal tiga ini.

Tapi, para pengamat meyakini sejatinya kondisi saat ini masih jauh dari resesi. “Resesi baru terjadi jika pertumbuhan ekonomi negatif selama dua kuartal berturut-turut, Indonesia masih tumbuh di atas 5%,” ujar Muhamad Alfatih, pengamat pasar modal Samuel Sekuritas.

Fikri menambahkan, data-data ekonomi AS juga masih cukup baik. Ia menilai, ketidakpastian global bisa berangsur hilang bila perang dagang selesai.

Meski begitu, investor perlu mewaspadai dampak ketidakpastian kondisi global. Alfatih mempertimbangkan merevisi target IHSG yang semula di 6.800. Ia masih menghitung target baru IHSG. Ia juga menyarankan investor masuk ke saham defensif.

“Investor juga dapat mengurangi instrumen yang berisiko tinggi ke risiko yang rendah serta memperbanyak porsi diBcash, agar dapat membeli saat harga nantinya cukup rendah,” Setali tiga uang, mengingat investor asing tengah dalam posisi risk-off, Hariyanto menyarankan investor untuk memilih saham defensif. “Alternatifnya, saham emiten emas,”

Kepala Riset Infovesta Utama Wawan Hendryana memprediksi, tekanan terhadap indeks masih akan berlanjut, setidaknya selama bulan ini. Namun bulan depan, IHSG akan digerakkan oleh sentimen penurunan suku bunga. Dus, indeks saham akan cenderung bergerak positif pada bulan depan.

sumber: https://investasi.kontan.co.id/news/waspadai-ancaman-resesi-global-begini-saran-analis