IHSG Merah, Ini 10 Saham LQ45 dengan PER Terendah & Tertinggi

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tergelincir, berikut daftar 10 saham LQ45 dengan price earning ratio (PER) terendah dan tertinggi, setelah penutupan perdagangan 15 Agustus 2019.

Meski IHSG merah, selalu ada peluang di bursa saham. Secara umum ada anggapan bahwa semakin kecil PER saham, semakin murah saham itu dibanding saham-saham dalam sektor sejenis. Sebaliknya, semakin tinggi PER suatu saham, secara relatif semakin mahal pula saham tersebut dibanding saham lain dalam sektor yang sama.

Namun, tentu saja, masih banyak faktor lain yang patut diperhitungkan selain PER sebelum seorang investor mengambil keputusan investasi.

10 Saham LQ45 dengan PER Terendah
Kode Harga (14/8) Harga (15/8) PBV PER
SRIL 340 340 0,85 3,91
LPPF 3.250 3.270 5,38 3,94
ADRO 1.050 1.025 0,52 4,83
PTBA 2.430 2.380 1,56 6,03
UNTR 21.575 20.750 1,33 6,94
ITMG 13.975 13.400 1,21 7,56
MNCN 1.300 1.315 1,65 8,12
BBTN 2.290 2.270 0,97 9,19
BBNI 8.100 8.025 1,28 9,8
BSDE 1.370 1.345 0,83 10,51
10 Saham LQ45 dengan PER Tertinggi
Kode Harga (14/8) Harga (15/8) PBV PER
BRPT 740 730 1,67 182,5
TPIA 7.475 7.600 5,32 138,18
SMGR 12.850 12.950 2,41 79,45
INTP 21.850 21.875 3,69 62,86
EXCL 3.360 3.320 1,9 62,64
UNVR 44.900 44.700 67,22 46,13
ANTM 1.110 1.120 1,35 38,62
CTRA 1.210 1.200 1,33 37,5
ERAA 2.160 2.130 1,42 31,32
BBCA 30.050 30.000 4,63 28,76

sumber: https://investasi.kontan.co.id/news/ihsg-merah-ini-10-saham-lq45-dengan-per-terendah-tertinggi-158

OCBC dikabarkan berminat jadi pengendali Bank Permata

Jumlah investor yang melirik saham PT Bank Permata Tbk (BNLI) semakin bertambah. Pamornya ternyata tak redup pasca PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) gagal masuk. Saat ini ada tiga investor yang tertarik mencaplok bank tersebut.  Setelah sebelumnya dua lembaga keuangan Jepang yakni Mizuho Financial Group dan Sumitomo Mitsui Finansial Group dikabarkan mengincar Bank Permata, Overseas Chinese Banking Corp (OCBC) juga disebut tengah mempertimbangkan menjadi pengendali saham bank tersebut.

Sumber Bloomberg menyebutkan, OCBC sedang mempertimbangkan menawar sekitar 90% saham BNLI dari sekitar US$ 1,9 miliar. Bank terbesar kedua di Singapura itu, akan membeli saham milik PT Astra International Tbk (ASII) dan Standard Chartered yang saat ini masing-masing memiliki porsi 44,56%.

Pertimbangan OCBC itu disebut masih dalam tahap awal dan mungkin tidak menghasilkan kesepakatan. Saat ini, OCBC sudah hadir di Indonesia lewat kepemilikan 85% saham di PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP).

Parwati Surjaudaja, Presiden Direktur OCBC tidak mau mengomentari isu yang ada di pasar terkait induknya. “OCBC NISP hanya fokus untuk mencapai pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan,”.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tidak menanggapi pertanyaan mengenai update akuisisi Bank Permata tersebut. Head of Investor Relations Astra International Tira Ardianti seperti biasanya enggan menanggapi kabar yang berkembang di pasar.

Sumber Kontan.co.id sebelumnya menyebutkan otoritas di dalam negeri lebih menyukai investor asal Jepang. Pertumbuhan sektor kredit melambat dan inflasi rendah mendorong Bank asal Jepang berekspansi ke negara lain dan Indonesia menjadi salah satu tujuan.

Sumitomo disebut ingin membidik seluruh kepemilikan Astra dan Standard Chartered Bank. Sedangkan Mizuho cuma akan mengambil saham dari Standard Chartered karena perusahaan ini ingin Grup Astra tetap memiliki bisnis di sektor perbankan. Apalagi kabarnya Bank Permata juga telah menjadi bank pengelola gaji karyawan (payroll) Mizuho. Pun Mizuho dikabarkan akan segera berkantor di Gedung Astra, Sudirman, Jakarta Pusat.

Mencuatnya kabar minat OCBC tersebut bikin saham Bank Permata langsung melambung. Pada perdagangan Rabu (14/8), saham BNLI naik 8,43% ke level Rp 965.

sumber: https://keuangan.kontan.co.id/news/rumor-hangat-ocbc-dikabarkan-berminat-jadi-pengendali-bank-permata

Bank-bank mulai menggunting bunga KPR

Pernurunan bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI) sebesar 25 basis poin (bps) pada awal Juli 2019 lalu mulai direspons bank. Sejumlah bank mulai menurunkan bunga kredit pemilikan rumah (KPR).

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) misalnya telah menurunkan bunga KPR sebesar 50 bps sejak awal Agustus lalu. “Mulai 1 Agustus 2019, suku bunga KPR BCA sudah disesuaikan untuk yang fix 3 tahun dan 5 tahun dari 8,5% menjadi 8%. Lebih rendah 0,5% dari sebelumnya. Sedangkan suku bunga floating rate saat ini di kisaran 11,5%,” kata Sekretaris Perusahaan BCA Jan Hendra.

Hal serupa juga telah dilakukan PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA). Direktur Konsumer Bank CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan pihaknya sudah memangkas bunga KPR pascapenurunan bunga acuan bank sentral.

Lani bilang, saat ini suku bunga fix KPR hingga 5 tahun yang disediakan berada di kisaran 8%-8,50%. “Sedangkan floating rate-nya juga sudah turun menjadi 11,2% sejak penurunan bunga acuan Bank Indonesia,” kata Lani.

Sementara PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) telah menurunkan bunga kredit konsumer, mikro, dan ritel sebesar 50 bps sejak awal Agustus lalu. Meski demikian, bunga KPR BRI masih stagnan.

“Untuk bunga promo BRI masih berkisar di antara 7,15% hingga 8,75%. Sementara floating rate kami sebesar 13%,” kata DIrektur Konsumer BRI Handayani kepada Kontan.co.id.

Sedangkan Direktur Konsumer PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) Budi Satria mengatakan, BTN akan meninjau ulang bunga KPR. Sebelumnya. ia pernah menyatakan bahwa sepanjang 2019 BTN telah menaikan bunga KPR sebesar 25 basis poin.

“Kami baru akan meninjau suku bunga pascapenurunan suku bunga dari BI. Saat ini floating rate KPR kami berada di kisaran 10%,” katanya kepada Kontan.co.id.

Sementara Juru Bicara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sekar Putih Djarot menyatakan bahwa sejatinya sepanjang 2019 bunga KPR bank trennya menurun.

Catatan OJK, sejak Januari hingga Mei 2019 rata-rata bunga KPR memang melandai. Di bulan Januari 2019 tercatat 9,14%, Februari 9,04%, Maret 9,03%, April 9,03%, dan Mei 8,98%.

sumber:https://keuangan.kontan.co.id/news/bank-bank-mulai-menggunting-bunga-kpr

Sudah kemahalan beli emas, simak sejumlah instrumen pilihan berikut

Tren kenaikan harga emas yang masih berlanjut membuat investasi di safe haven emas semakin menarik di tengah banyaknya sentimen yang beredar di pasar keuangan global. Asal tahu saja, selain emas ada beberapa aset lainnya yang dianggap pasar sebagai safe haven atau aset imbal hasil dengan risiko rendah yakni currency seperti yen dan dolar AS, serta obligasi milik pemerintah.

Penasihat keuangan Finansia Consulting Eko Endarto mengatakan, meskipun banyak pilihan safe haven di pasar keuangan, namun yang masih cukup menarik saat ini adalah emas. Harapannya, hingga akhir tahun ada peluang bagi harga emas untuk tumbuh hingga 12%.

“Biasanya kalai kondisi tidak menentu, emas jadi pilihan nomor 1, kemudian ke produk-produk obligasi pemerintah dan ketiga baru ke perbankan seperti ke deposito atau tabungan untuk jaga cash,” jelas Eko kepada Kontan.co.id, Jumat (9/8).

Menurutnya, untuk jangka panjang tren harga emas masih akan meningkat. Namun bagi mereka yang baru akan masuk, sebaiknya ditahan terlebih dulu lantaran harga sudah terlalu mahal.

Di sisi lain, investor juga bisa melirik aset-aset yang sudah terdiskon banyak seperti saham atau reksadana saham untuk investasi jangka panjang. Adapun sektor yang bisa dilirik seperti saham milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN), sektor konsumsi dan konstruksi.

“Jadi, kalau mau investasi jangka panjang untuk 5-10 tahun, sekarang jadi kesempatannya biar dapat harga diskon,” tambahnya.

Adapun tips bagi investor yang memiliki tipe konservatif, bisa mengalokasikan 10% dananya untuk cash, 50% untuk investasi jangka menengah seperti obligasi dan sisanya bisa dialirkan ke investasi jangka panjang seperti emas. Sedangkan yang memiliki tipe moderat, disarankan untuk mengalokasikan 10% dananya untuk cash, 45% untuk investasi jangka menengah dan 45% untuk jangka panjang. Terakhir untuk investor yang memiliki tipe agresif, 10% dialokasikan untuk cash, 30% untuk investasi jangka menengah dan 60% untuk investasi jangka panjang seperti emas dan reksadana saham.”Kalau untuk currency bukan aset yang berbentuk fisik, nilainya juga sangat bergantung pada negara penerbit. Jadi kami lebih memilih emas,”

sumber:https://investasi.kontan.co.id/news/sudah-kemahalan-beli-emas-simak-sejumlah-instrumen-pilihan-berikut

Saham Garuda (GIAA) terbang tinggi, ini penyebabnya

Saham PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) melesat tinggi pada perdagangan hari ini, Kamis (8/8). Hingga penutupan perdagangan, harga saham GIAA naik 17,44% ke level Rp 505 per lembar saham. Bahkan, harga saham GIAA sempat menyentuh level Rp 530 per lembar saham pada hari ini.

Analis Paramitra Alfa Sekuritas Evan Fajrin mengatakan, meredanya polemik kasus laporan keuangan masksapai penerbangan pelat merah ini menjadi salah satu sentimen positif yang membuat pergerakan saham GIAA meroket hari ini. “Dari pihak Garuda sendiri pun sudah mematuhi sanksi-sanksi yang diterima untuk menyajikan kembali laporan keuangan tahun 2018 dan telah membayar denda maka menurut saya sih cukup wajar ya,” Selain itu, Garuda juga baru saja merilis laporan keuangan semester I-2019 dengan kinerja yang cukup positif.

Sepanjang semester I-2019 Garuda membukukan laba sebesar US$ 24,11 juta setelah pada periode yang sama tahun lalu mencatatkan kerugian senilai US$ 116,85 juta. Pendapatan meningkat sebesar 9,74% secara tahunan menjadi US$ 2,19 miliar dari sebelumnya sebesar US$ 1,99 miliar.

Di sisi lain, Garuda berhasil melakukan efisiensi pada beban usaha yang mengalami penurunan sebesar 2% menjadi US$ 2,10 miliar dari sebelumnya pada periode yang sama pada tahun lalu sebesar US$ 2,14 miliar.

Adapun sebelumnya, saham Garuda sempat terseok lantaran investor melakukan aksi jual setelah perseroan terbukti memoles laporan keuangan 2018. Adapun hari ini, volume perdagangan saham GIAA mencapai 249,24 juta senilai Rp 121,35 miliar.

Akumulasi beli bersih (net buy) asing tercatat mencapai Rp 287,21 juta. Sejak awal tahun hingga perdagangan hari ini, harga saham GIAA sudah mencatatkan peningkatan hingga 69,46 persen.

sumber: https://investasi.kontan.co.id/news/saham-garuda-giaa-terbang-tinggi-ini-penyebabnya

IHSG kembali menguat di awal perdagangan Kamis, 08 Agustus 2019

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat di awal perdagangan Kamis (8/8). Pukul 09.05 IHSG menguat 49,64 poin atau 0,81% ke 6.253,23.

Sebanyak 164 saham naik, 41 saham turun dan 119 saham tak bergerak. Seluruh sektor kompak menguat. Sektor-sektor dengan penguatan terbesar adalah sektor pertambangan yang naik 1,59%, sektor infrastruktur naik 1,31% dan sektor aneka industri naik 0,58%.

Total volume perdagangan saham di bursa pagi ini mencapai 1,20 miliar saham dengan total nilai Rp 497,47 miliar.

Top gainers LQ45 pagi ini adalah:

1. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) (5,47%)
2. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) (5,35%)
3. PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) (2,45%)

Top losers LQ45 pagi ini adalah:

1. PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) (-0,69%)
2. PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) (-0,53%)
3. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) (0,20%)

Investor asing mencatatkan pembelian bersih Rp 9,59 miliar di seluruh pasar. Saham-saham dengan pembelian bersih terbesar asing adalah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) Rp 13,6 miliar, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) Rp 5,7 miliar dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 3,3 miliar.

sumber: https://investasi.kontan.co.id/news/ihsg-kembali-menguat-di-awal-perdagangan-kamis-88

Bangun ibukota baru, pemerintah akan tukar guling aset di Jakarta

Pemerintah akan menukar guling sejumlah aset di Jakarta untuk tambahan biaya membangun ibu kota baru di Kalimantan. Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengungkapkan, pemerintah bisa mendapatkan sumber penerimaan baru dengan valuasi hingga Rp 150 triliun dengan cara ini.

“Jadi ini sifatnya karena ada potensi penerimaan yang besar dari aset Jakarta, maka kita akan mengupayakan agar kerja sama pengelolaan aset di Jakarta bisa dipakai untuk membangun ibu kota baru,” kata Bambang usai rapat terkait pemindahan ibu kota, di kantor Presiden, Jakarta, Selasa (6/8).

“Kalau bisa ditukar guling ya bisa menjadi pemasukan langsung,” sambung dia.

Beberapa aset tersebut meliputi gedung pemerintahan yang berada di pusat Jakarta seperti di kawasan Medan Merdeka, Thamrin, Sudirman, Kuningan, dan SCBD. Adapun skema tukar guling yang ditawarkan antara lain dengan menyewakan gedung perkantoran kepada pihak kedua dengan tarif sesuai dengan kontrak yang ada.

Kedua, kerja sama pembentukan perusahaan yang didirikan oleh dua atau lebih entitas bisnis dalam rangka penyelenggaraan bisnis pada jangka waktu tertentu (joint venture). Ketiga, menjual langsung gedung kantor yang dimiliki ke pengembang. Keempat, sewa gedung dengan syarat pengembang mau berkontribusi dalam pembangunan ibu kota baru. Hasil dari tukar guling ini diharapkan bisa menambal kebutuhan pembangunan ibu kota baru yang bersumber dari APBN.

“Ini bisa menambal kebutuhan APBN. Karena dari rancangan awal kita, tadinya dari APBN diperkirakan dibutuhkan Rp 93 triliun. Artinya kalau kita bisa mendapatkan pemasukan Rp 150, kita bisa menutupi seluruh kebutuhan pengeluaran yang memang harus dari APBN,” ungkap dia.

Selain APBN, Bambang juga mengungkapkan bahwa skema pembiayaan pembangunan ibu kota negara bisa dilakukan dengan kerja sama pemerintah badan usaha (KPBU) dan partisipasi swasta/BUMN.

Adapun lokasi pemindahan ibu kota baru sudah mengerucut pada tiga provinsi di Kalimantan, yakni Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Presiden, berjanji untuk segera memilih dan mengumumkan lokasi pastinya. “Dari hasil rapat tadi, intinya Bapak Presiden akan segera membuat pengumuman mengenai lokasi definitifnya atau lokasi pastinya. Tapi yang pasti satu di antara tiga itu,” ujar Bambang.

sumber:https://nasional.kontan.co.id/news/bangun-ibukota-baru-pemerintah-akan-tukar-guling-aset-di-jakarta

Pasar obligasi kembali tertekan, investor asing berpotensi lakukan aksi jual

Kondisi pasar obligasi Indonesia yang kembali diliputi ketidakpastian dalam beberapa hari terakhir dapat mendorong aksi jual investor asing dalam waktu dekat. Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto mengatakan, awalnya koreksi di pasar obligasi terjadi karena aksi ambil untung oleh sebagian investor mengingat harga SUN sudah rally cukup signifikan di bulan lalu. Akan tetapi, tekanan bertambah karena tensi perang dagang antara AS dan China kembali meningkat.

Di sisi lain, investor asing juga masih menantikan langkah berikutnya dari The Fed terkait kebijakan moneter AS di masa mendatang. Hal ini mengingat The Fed cenderung memberi sinyal hawkish kendati memangkas suku bunga acuan AS pada pekan lalu. Ramdhan berharap tekanan eksternal bisa segera berakhir sehingga yield SUN 10 tahun kembali berangsur-angsur turun seperti di bulan Juni dan Juli kemarin. Pasalnya, sebagian besar investor asing mengincar SUN seri-seri benchmark, termasuk untuk tenor 10 tahun. Naik-turunnya yield SUN seri acuan tentu bisa mempengaruhi minat investor asing di pasar obligasi domestik. “SUN seri acuan kerap dibandingkan dengan US Treasury, makanya banyak investor asing yang mengincar seri tersebut,” paparnya, Senin (5/8).

Dia juga menilai, spread antara yield SUN dan US Treasury masih akan menarik bagi investor asing sekalipun yield SUN kembali turun. Untuk saat ini, spread antara yield SUN dengan US Treasury untuk tenor 10 tahun memang tergolong lebar.

Mengutip data Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI), yield SUN 10 tahun pada hari ini  Senin (5/8) berada di level 7,64%. Di sisi lain, yield US Treasury tenor 10 tahun berada di level 1,77%. Hasil tersebut membuat spread yield SUN dan yield US Treasury kini mencapai 587 bps atau 5,87%.

Menurut Ekonom PT Pemeringkat Efek Indonesia Fikri C. Permana, pelebaran spread antar yield obligasi di atas kertas bisa menjadi pemicu masuknya investor asing ke pasar SBN secara berkelanjutan. Namun, perlu diingat bahwa kenaikan yield SUN akhir-akhir ini diikuti pula oleh pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS.

Lihat saja, hari ini rupiah kembali terkapar di pasar spot sebesar 0,49% ke level Rp 14.255 per dolar AS. Pelemahan rupiah yang terjadi terus-menerus terjadi dikhawatirkan akan menahan laju aliran dana masuk dari investor asing di pasar obligasi. Jika akhirnya investor asing kembali keluar, bukan tidak mungkin tekanan di pasar obligasi akan bertambah. Apalagi, nilai kepemilikan asing telah di atas Rp 1.000 triliun.

“Investor asing melihat salah satu risiko saat ini adalah depresiasi atau ketidakstabilan rupiah,” ujar Fikri, Senin (5/8). Lebih lanjut, ia juga menganggap, perkembangan sentimen global masih akan berperan besar terhadap nilai kepemilikan asing di pasar SBN dalam beberapa waktu ke depan. Ini mengingat belum ada lagi sentimen dari dalam negeri yang bisa menopang laju aliran dana asing. Justru, hasil data pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II-2019 yang hanya mencapai 5,05% (yoy) bisa menjadi sentimen negatif walau cuma sesaat. “Dalam jangka panjang, investor asing lebih memperhatikan pengelolaan utang yang tergambar dalam APBN Indonesia,” tandasnya.

Sebagai informasi, berdasarkan data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu, investor asing mencatatkan aksi beli atau net buy sebesar Rp 24,29 triliun di pasar Surat Berharga Negara (SBN) sepanjang bulan Juli lalu. Lantas, nilai kepemilikan asing di pasar SBN per akhir Juli kemarin tumbuh mencapai Rp 1.013,04 triliun.

sumber: https://investasi.kontan.co.id/news/pasar-obligasi-kembali-tertekan-investor-asing-berpotensi-lakukan-aksi-jual

Market sepekan: Bursa global alami minggu terburuk di sepanjang 2019

Pasar saham mengalami pekan terburuk di sepanjang tahun ini. Investor mencemaskan langkah Presiden AS Donald Trump yang kian memanaskan perang dagang dengan China.

Data yang dihimpun Bloomberg menunjukkan, indeks S&P 500 melorot selama lima hari beruntun, yang menandai penurunan mingguan terbesar sejak aksi jual pada Desember lalu. Perang dagang kembali menjadi isu utama setelah Trump mengatakan AS akan kembali menetapkan pajak impor sebesar 10% atas barang-barang China. Hal ini tentu saja menyebar kecemasan mengenai dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi global.

Apalagi, sebagai balasannya, China juga berjanji akan membalas ancaman tersebut. Bukannya meredakan ketegangan yang muncul, Trump kembali mengeluarkan pernyataan yang kontroversial pada Jumat malam. Dia bilang, dirinya bisa saja menaikkan lagi pajak impor menjadi lebih tinggi dari yang sekarang.

Padahal, sebelumnya, pasar saham sudah mengalami tekanan setelah tidak ada kepastian mengenai penurunan suku bunga lanjutan dari The Fed pasca pemangkasan suku bunga pertama dalam satu dekade terakhir oleh bank sentral AS tersebut. Tak hanya pasar saham, sentimen ini juga menjangkiti pasar obligasi. Bisa dilihat dari anjloknya tingkat yields surat utang AS bertenor 10 tahun ke level terendah sejak 2016.

“The Fed kemungkinan besar akan melakukan pelonggaran kebijakan karena ketegangan perang dagang bisa berdampak pada perekonomian global. Ujung-ujungnya, ekonomi AS juga ikut negatif,” jelas Chris Zaccarelli, chief investment officer untuk Independent Advisors Alliance.

Di sisi lain, laporan tenaga kerja AS yang dirilis Jumat, kian menambah teka-teki dari puzzle besar yang meliputi the Fed, kinerja emiten, dan perdagangan.

Berikut adalah rangkuman market global saat penutupan transaksi perdagangan Jumat (2/8):

Pasar saham:
– Indeks S&P 500 tergerus 0,7% pada pukul 16.00 waktu New York, menyentuh level terendah dalam lima pekan terakhir. S&P 500 juga mengalami minggu terburuk sejak Desember 2018.

– Indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,6% ke level terendah dalam enam pekan.

– Indeks Nasdaq Composite tergerus 1,6%, menyentuh posisi terendah dalam lima pekan terakhir.

– Indeks Stoxx Europe 600 melorot 2,5%, yang merupakan level terendah dalam enam pekan lebih.

Mata uang:

– Bloomberg Dollar Spot Index turun 0,1%
– Yen Jepang menguat 0,7% menjadi 106,47 per dollar, yang merupakan level terkuat dalam 16 bulan terakhir.
– Euro menguat 0,2% menjadi 1,1112 per dollar AS.

Obligasi:

– Tingkat yield surat utang AS bertenor 10 tahun turun 4 basis poin menjadi 1,85%.
– Tingkat yield surat utang AS bertenor dua tahun turun dua basis poin menjadi 1,72%
– Tingkat yield surat utang Jerman bertenor 10 tahun turun lima basis poin menjadi -0,495%, level terendah di sepanjang sejarah.

Komoditas:

– Harga emas turun 0,2% menjadi US$ 1.441,85 per troy ounce
– Harga minyak WTI naik 2,5% menjadi US$ 55,29 per barel

sumber:https://investasi.kontan.co.id/news/market-sepekan-bursa-global-alami-minggu-terburuk-di-sepanjang-2019

Rupiah semakin melorot di awal perdagangan hari ini

Rupiah semakin melemah di awal perdagangan Jumat (2/8). Pukul 08.05 WIB rupiah ada di level Rp 14.179 per dolar Amerika Serikat (AS), melorot 0,44% dibanding sehari sebelumnya yang ada di Rp 14.116 per dolar AS.

Rupiah menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam terhadap dolar AS dibanding mata uang negara-negara Asia lainnya.

Setelah rupiah, mata uang rupee India menduduki peringkat kedua mata uang terlemah terhadap dolar AS dengan pelemahan 0,37%, sedangkan won Korea melemah 0,33%, dolar Taiwan melemah 0,31% dan yuan China melemah 0,25%.

Sementara itu, indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia ada di level 98,30, naik tipis dari sehari sebelumnya yang ada di 98,36.

sumber: https://investasi.kontan.co.id/news/rupiah-semakin-melorot-di-awal-perdagangan-hari-ini